A. Demonstrasi dan Kewajiban Intelektual Mahasiswa
Demonstrasi sendiri bukan merupakan hal aneh di negara penganut sistem demokrasi seperti Indonesia. Demonstrasi menjadi metode perjuangan yang mengandalkan kekuatan massa dalam menekan pemerintah atau pihak lain, untuk mencabut atau memberlakukan kebijakan yang tidak dikehendaki massa. Aksi massa merupakan bentuk perjuangan aktif dalam rangka mengubah kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak massa.
Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, demonstrasi menjadi sebuah cara bagi orang-orang lemah yang terbungkam untuk menyuarakan aspirasi kepada pihak yang kuat. Dorongan utama yang melahirkan aksi demonstrasi adalah keinginan massa akan perubahan. Tidak bisa dimungkiri bahwa demonstrasi mahasiswa, buruh, aksi rakyat, dan gerakan lainnya dari kelompok kepentingan adalah dalam rangka mewujudkan perubahan.
Mahasiswa mempunyai kewajiban intelektual sekaligus moral keagamaan untuk menyampaikan yang benar itu benar dan berani menyalahkan apa yang mereka yakini sebagai kesalahan. Kesalahan bangsa Indonesia adalah membiarkan penguasa yang sudah lama bercokol dengan kekuasannya. Padahal, penguasa yang dibiarkan lama berkuasa, cenderung untuk korupsi semakin besar. Power tends to corrupt and absolut power corrupts absolutely.
Mahasiswa menaruh peranan penting dalam masyarakat. Amien Rais mengungkapkan rakyat yang berkarakter cenderung statis, tidak bergerak karena ada perasaan takut salah, nrimo, kadang putus asa, dan kadang apatis. Mahasiswa-lah yang mendinamiskan kelambanan rakyat. Mahasiswa itu seperti filosofi arang, kalau ada arang yang panas satu dua tiga maka yang lain akan jadi panas juga.
Namun demonstrasi yang dilakukan mahasiswa juga harus mau berbesar hati untuk diberi masukan. Jangan sampai gerakan dan aksi massa mahasiswa hanya menjadi Gerakan Koran, meminjam istilah Boni Hargens, dosen ilmu politik UI. Jangan sampai menjadi gerakan yang sama saja dengan headline koran. Sekedar teriak, dengan gerakan-gerakan reaktif sesuai dengan isu yang tengah berkembang. Reaksi yang dilakukan mahasiswa hendaklah reaksi yang berdasarkan pemahaman dan oleh karena itulah fungsi edukasi massa yang dilakukan dalam setiap aksinya. Aksi yang berdasarkan atas kajian dan pemahaman yang mendalam akan persoalan yang dituntut dan disuarakannya. Bila tidak, gerakan mahasiswa hanya akan menjadi kegamangan kolektif yang gagal menawarkan solusi.
Sinisme yang muncul di masyarakat agar para mahasiswa menghentikan aksi jalanannya, serius kuliah, lulus, dan bekerja hendaklah ditanggapi dengan lapang dada. Inilah gaya berfikir kaum pragmatis dan kapitalis. Bila hal ini terjadi, mahasiswa telah gagal membaca keresahan rakyat. Jika mahasiswa sebagai agent of change gagal menangkap keresahan, enggan turun ke jalan, serunai kehancuran negeri ini pun telah datang. Pemuda yang tak mampu merespons kegelisahan dan permasalahan sosial. Pemuda-pemuda apatis inilah nantinya yang akan membesarkan negara bukan untuk kepentingan rakyat, melainkan kepentingan perutnya.
Persoalan anarkisme mahasiswa, biarlah ini menjadi bagian dari dinamika gelombang demonstrasi. Di sisi lain, layak pula mahasiswa berinstrospeksi diri agar di setiap aksinya, mereka tidak mudah terprovokasi. Karena boleh jadi, bukan mahasiswa yang pertama ingin melakukan aksi anarki, melainkan banyak juga oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingannya dengan membayar sejumlah orang untuk menjadi provokator aksi.
Sekali lagi, Indonesia menganut sistem demokrasi. Suara rakyat memang sangat diperhitungkan. Parpol tentu tak mau mengambil resiko kehilangan konstituennya dengan tidak mengakomodasi suara rakyat. Dalam titik inilah suara rakyat menjadi power yang cukup diperhitungkan pemerintah untuk pengambilan kebijakan. Pada titik inilah mahasiswa berfungsi sebagai katalisator bergeraknya rakyat turun ke jalan untuk menyuarakan dan menuntut ketidakadilan. Itulah fungsi dan peran mahasiswa. Karenanya, demonstrasi mahasiswa masih sangat relevan dilakukan di Indonesia.
B. Apakah Demo Mahasiswa Selalu Anarki?
Belakangan, demo mahasiswa dinilai anarki, jauh dari kesan intelektual. Namun sangat tidak bijaksana bila aksi-aksi yang berakhir ricuh digeneralisasi untuk menjatuhkan nilai perjuangan sesungguhnya yang diusung mahasiswa. Demonstrasi merupakan medium mahasiswa untuk mengaktualisasikan dan mengkontekstualkan pemikiran, gagasan, pendapat dan kritik mereka terhadap kebijakan suatu negara yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Kericuhan terjadi manakala keran komunikasi antara rakyat dengan wakil rakyat tersumbat. DPR pun gagal memfungsikan diri sebagai corong aspirasi rakyat dan bersibuk dengan pengamanan posisi politiknya. Di sinilah wajar bila kegelisahan mahasiswa memuncak. Sehingga aspirasi mahasiswa yang tidak tersampaikan melalui media, atau aduan diluapkan melalui demo dijalan-jalan, di depan kantor-kantor lembaga, bahkan di dalam gedung-gedung pemerintahan.
Contoh Kasus :
Demonstrasi telah berlangsung lebih dari sepekan. Gelombang demonstrasi tak henti-hentinya membahana mengalir ke ibu kota Jakarta. Tak mau kalah, aksi serupa juga tak putus-putusnya digelar di daerah sebagai respons penolakan rakyat atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Ledakan gelombang demonstran yang menggoyang tahta Presiden SBY, membuatnya harus angkat bicara lagi. Beliau menyatakan ada gerakan aneh yang tengah menyerangnya dan ingin menggulingkan kekuasaannya. Rakyat pun lagi-lagi disuguhkan pidato melankolis sang presiden.
Sementara media sibuk memberitakan aksi mahasiswa yang berakhir ricuh. Aksi unjuk rasa mahasiswa pun menuai beragam komentar. Ada yang simpatik. Ada pula yang nyinyir. Media terus saja meliput aksi mahasiswa yang berakhir dengan bentrok antara mahasiswa dengan polisi, aksi bakar ban, aksi blokade jalan, penggulingan mobil berplat merah, penyanderaan truk dan digunakan sebagai mimbar orasi sampai pendudukan bandara oleh massa aksi. Image buruk pun belakangan melekat pada demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Serangkaian komentar pedas meluncur, mahasiswa dinilai kehilangan keintelektualitasannya. Aksi mereka dinilai anarkis dan lebih dipandang sebagai aksi yang sekadar bertujuan menunjukkan eksistensi, ketimbang keikhlasan hati menyuarakan kepentingan rakyat. Muncullah pertanyaan, pentingkah mahasiswa berdemonstrasi?
Pemerintah yang cenderung paranoid dengan rencana demonstrasi besar-besaran menolak kenaikan BBM segera merespons dengan memberi mandat kepada TNI dan Polri untuk mengamankan unjuk rasa berbagai elemen masyarakat, khususnya mahasiswa. Setali tiga uang, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh pun berkomentar bahwa demo yang dilakukan mahasiswa tidak sejalan dengan nilai intelektual mahasiswa sebagai masyarakat intelektual. Semua bersibuk menghalau mahasiswa untuk berdemonstrasi.
C. Hentikan Aksi Demo Mahasiswa Sekarang Juga!
Media massa di Indonesia dihiasi dengan berita seputar rangkaian demo yang dilakukan oleh mahasiswa (oknum mahasiswa), kelompok buruh, kelompok sopir angkutan, dan sebagainya. Saya menghargai aksi demo ketiga kelompok ini. Namun, saya pribadi tidak setuju dengan demo para mahasiswa.
Perlu diketahui bahwa tidak semua mahasiswa di Indonesia terlibat daam aksi demo. Kampus kami tidak mempunyai utusan atas nama kampus untuk terlibat dalam aksi demo. Entah ada yang ikut, itu pasti atas nama pribadi atau golongan. Yang jelas, kami sebagai mahasiswa berhak untuk setuju atau tidak setuju dengan aksi demo itu. Apakah kami tidak peka dengan rakyat kecil? Apakah kami tidak bersolider dengan aksi demo para mahasiswa di sejumlah kota di tanah air, Jakarta, Bandung, Jember, Sukoharjo, Surakarta, Probolinggo, Medan, Makasar, Surabaya, Malang, Jember, Semarang, Samarinda, Jambi, Lampung, Brebes, Yogyakarta, Palangkaraya, Kendari, Ternate, dan lain-lain?
Tampaknya, kami seperti pembangkang yang tidak peduli dengan rakyat kecil. Kami juga merupakan bagian dari rakyat kecil. Bukankah ini sebuah pengkhianatan? Entah pembaca menilainya seperti itu atau mencap dengan label lainnya, itu sah-sah saja, yang jelas saya dan teman-teman di kampus tidak mau terlibat dalam aksi demo itu. Saya termasuk mahasiswa yang tidak setuju dengan aksi demo yang dilakukan mahasiswa beberapa akhir ini. Jangan menilai saya pembangkang karena saya akan memberikan alasan di balik aksi untuk tidak demo.
D. Cara Alternatif Tidak Demo, tetapi Penting dilakukan Mahasiswa
Pertama, saya mesti mengakui dan berterima kasih atas perjuangan teman-teman mahasiswa untuk memperjuangkan hak rakyat kecil. Saya salut dengan perjuangan teman-teman. Tetapi, saya tidak setuju dengan perjuangan dalam bentuk demo. Mengapa saya tidak setuju? Aksi demo yang digelar di beberapa kota itu tidak mempunyai alasan yang jelas. Jangan-jangan teman-teman hanyalah gerombolan yang ikut-ikutan saja tanpa tahu tuntutan demo itu seperti apa? Apa yang teman-teman perjuangkan dengan aksi demo itu? Menurut hemat saya, jika aksi demo itu mempunyai tuntutan yang jelas, hampir pasti bahwa demo itu berhasil.
Demo tentang pembatalan kenaikan harga BBM yang sedang direncanakan pemerintah dan DPR kala itu. Tuntutan itu mesti digemakan dalam aksi demo yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa dari berbagai kota di penjuru tanah air. Jadi, demo itu berlangsung selama tuntutan itu belum dipenuhi. Sehingga demo memiliki arti yang besar dalam aspirasi mahasiswa mewakili rakyat kecil.
Tetapi, tuntutan itu, menurut hemat saya, tidak cukup. Ibaratnya dalam berdebat, kita memilih untuk tidak setuju dengan sebuah pendapat dan mempunyai pendapat lain yang kita ajukan. Kalau mahasiswa tidak setuju dengan kenaikan BBM, lau apa kira-kira solusinya? Dengan membatalkan kenaikan BBM, apa kira-kira yang bisa dilakukan pemerintah dan rakyat sehingga keduanya tidak mengalami kerugian besar?
Pilihan lain bisa bermacam-macam. Bisa dengan mengajukan tuntutan menasionalkan perusahaan asing yang mengelola sumber BBM di negeri ini. Cara inilah yang dilakukan pemerintahan Hugo Chavez di Venezuela. Ini hanya salah satu contoh saja. Teman-teman mahasiswa bisa membuat pilihan lain yang kiranya bisa dterapkan di negeri ini jika kenaikan BBM dibatalkan. Dengan tuntutan yang jelas, aksi demo itu terarah dan tidak ada dualisme.
Kedua, aksi demo yang dilakukan mahasiswa justru merugikan masyarakat lainnya. Lihat saja aksi demo beberapa hari belakangan yang dibarengi dengan aksi brutal lainnya. Salah satu kerugian yang sudah pasti adalah kemacetan. Bayangkan kerugian masyarakat jika beberapa ruas jalan utama ditutup blokade aksi mahasiswa. Ini sama dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Apakah tidak lebih baik kalau mahasiswa cukup beraksi di salah satu tempat tanpa menutup akses jalan yang digunakan masyarakat lainnya? Atau apakah nmahasiswa harus menutup akses jalan itu supaya masyarakat tahu bahwa mahasiswa masih eksis memperjuangkan kehidupan rakyat kecil? Dalam hal ini teman-teman mahasiswa mesti berpikir ulang. Jangan menganggap diri paling berkuasa sehingga di jalan pun paling berkuasa. Padahal tindakan itu justru tidak memperjuangkan kehidupan rakyat kecil.
Inilah argumen saya untuk memilih tidak ikut aksi demo bersama teman-teman mahasiswa lain. Kalau saya ikut maka jumlah pelaku pembakaran motor dan ban bisa bertambah. Kalau saya ikut maka pelaku perusakan lingkungan bertambah. Kalau saya ikut maka panjang kemacetan di beberapa kota jadi bertambah.
Meski saya tidak ikut demo, saya menghargai aksi demo yang dilakukan teman-teman mahasiswa di beberapa kampus di beberapa kota di penjuru tanah air. Kalau tuntutan demo dan solusinya jelas, saya akan mengajak mahasiswa lainnya untuk demo. Kita bersama-sama memperjuangkan kehidupan kita sebagai rakyat kecil dengan cara yang pas, tepat, dan tidak merugikan kepentingan umum. Negeri ini bukan milik kita, para mahasiswa saja, tetapi milk seluruh rakyat Indonesia. Kita hanyalah bagian kecil dari seluruh rakyat Indonesia.
E. Mahasiswa Jangan Sekedar Demo, Cari Solusi Lewat Dialog

Mahasiswa harus memiliki orientasi yang jelas sebelum berdemonstrasi. Hal ini agar mahasiswa tidak dimanfaatkan kepentingan politik tertentu. Selain itu mesti memiliki analisis yang tajam melihat kondisi negara, sehingga mampu memberikan solusi atas permasalahan bangsa, tidak hanya sekadar demonstrasi.
“Banyak yang mengindikasikan aksi mahasiswa tidak lagi murni memperjuangkan kebenaran. Ini terlihat pada tindakan anarkis saat demonstrasi. Demo yang sehat tidak sekadar meneriakkan kebenaran dan kesalahan, namun lebih kepada dialog mencari solusi permasalahan. Mahasiswa mesti memperhatikan sejumlah unsur. Di antaranya, harus memiliki pandangan yang luas serta mampu bersikap. Sehingga tidak mudah diperalat kepentingan pihak manapun. Di samping itu, mesti menghargai azas legalitas dan menjunjung tinggi hukum. Pentingnya lagi, harus mengawal penyelenggaraan otonomi daerah, sehingga jelas perubahan apa yang telah dilakukan pemerintah.
Dalam melaksanakan demonstrasi, mahasiswa harus sistematis. Tentukan tujuan dan kebenaran yang ingin dicapai. Layaknya perwira, pemimpin demo harus mampu membuka dialog dengan pemimpin daerah dan pemimpin lembaga lainnya agar aspirasi yang disampaikan diterima. Tidak berhenti sampai di situ, juga harus mengawal apakah aspirasi mereka telah ditindaklanjuti. Dalam hal ini kegigihan memang diperlukan untuk memperjuangkan kebenaran.
Sejarah membuktikan peran pemuda dan mahasiswa sangat mendominasi dalam episode perkembangan negara, baik sebelum kemerdekaan hingga perjuangan reformasi. Meskipun demikian era 1965 merupakan catatan kelam perjuangan mahasiswa. Dengan mendaulat TNI pemegang pemerintahan Indonesia, mahasiswa pemicu lahirnya orde baru serta dwi fungsi ABRI. Sementara Yulizal Yunus mengatakan, orang baru akan didengar jika memiliki status, kegiatan serta forum yang jelas. Setelah ketiga unsur itu dipenuhi, peran orang atau kelompok itu baru dapat dihargai dan didengar.