ANALISA BEBERAPA PANDANGAN PARA AHLI MENGENAI TEORI PERILAKU (BEHAVIORISTIK)
(Muhammad Syaifudin PMP-KN FIS UNESA)
Dalam teori behavioristik, proses menganalisa hanya dapat dilakukan pada perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori behavoristik lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.. Behavioristik hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia itu sendiri.
Ciri teori belajar ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, yaitu menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Ada beberapa prinsip teori behavioristik, yaitu obyek psikologi adalah tingkah laku, semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek, mementingkan pembentukan kebiasaan. Oitulah 3 prinsip dalam teori behavioristik.
Aristoteles berpendapat bahwa pada watu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, seperti sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Inilah yang menjadikan manusia siap dibentuk dan digambar menjadi apapun sesuai dengan lingkungan yang berkuasa di sekitarnya.
Menurut John Locke, manusia pada waktu lahir tidak mempunyai ”warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Idea dan pengetahuan adalah produk dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan tempramen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan disebabkan oleh perilaku masa lalu. Oleh karena itu, Pengalaman adalah segalanya penentu bagi kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya.
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum.
Ada 3 hukum yang ditemukannya, yaitu : hukum kesiapan, hukum latihan, dan hukum akibat. Sehingga dapat dikatakan bahwa teori belajar adalah cerminan dari behavioristik.
Menurut Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning, yaitu suatu proses penguatan perilaku yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginannya sendiri.
Menurut Teori belajar Bandura adalah teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbale balik yang berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan. Faktor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, motivasi.
Pandangan behavioristik sebenarnya agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behavioristik muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.
Teori Ivan Petrovich Pavlo disebut teori pelaziman klasik yaitu memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan.
Ivan Petrovich Pavlo mengadakan percobaan laboratorium terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank.
Dari contoh di atas diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi. Dalam hal ini yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.