1. Apa sumber-sumber pelanggaran disiplin dari lingkungan sekolah?
Menurut Ekosiswoyo dan Rachman (2000:100-105), contoh-contoh sumber pelanggaran disiplin di lingkunagna sekolah antara lain:
a. Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa
mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan siswa. Perbuatan
seperti itu mengakibatkan siswa menjadi berpura-pura patuh, apatis atau
sebaliknya. Hal itu akan menjadikan siswa agresif, yaitu ingin berontak
terhadap kekangan dan perlakuan yang tidak manusiawi yang mereka terima.
b. Guru yang membiarkan siswa berbuat salah, lebih mementingkan mata
pelajaran daripada siswanya.
c. Lingkungan sekolah seperti: hari-hari pertama dan hari-hari akhir sekolah
(akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, jadwal
yang kaku atau jadwal aktivitas sekolah yang kurang cermat, suasana yang
gaduh, dll

2. Apa sumber-sumber pelanggaran disiplin dari sebab-sebab umum?
a. Lingkungan rumah atau keluarga, seperti kurang perhatian, ketidak teraturan,
pertengkaran, masa bodoh, tekanan, dan sibuk urusannya masing-masing.
b. Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti lingkungan kriminal,
lingkungan bising, dan lingkungan minuman keras.
Menurut Arikunto (1990:137) macam-macam disiplin ditunjukkan dengan
tiga perilaku yaitu:
a) perilaku kedisiplinan di dalam kelas,
b) perilaku kedisiplinan di luar kelas di lingkungan sekolah, dan
c) perilaku kedisiplinan di rumah.

3. Sebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menanggulangi pelanggaran disiplin!
Menurut Dr. D.J. Schwart memberikan empat pedoman untuk menanggulangi/menangkal pelanggaran disiplin dan tata tertib sekolah, antara lain sebagai berikut:
1. Pelajari kemunduran untuk menempuh jalan ke arah kebersihan.
2. Jangan sekali-kali menyalahkan nasib buruk.
3. Gabungkan ketekunan dan eksperimen-eksperimen baru.
4. Temukan segi positif itu dan buang keputusasaan karena dalam setiap situasi selalu ada segi baik dan positif.
Keempat pedoman di atas dapat kita pakai untuk menindaklanjuti jika terjadi pelanggaran terhadap disiplin dan tata tertib sekolah. Nursisto (2002) menjabarkan jenis-jenis pelanggaran yang sering dilakukan oleh peserta didik, misalnya aksi corat-coret, membawa alat main atau bacaan/gambar porno, merokok atau terlibat narkoba, dan perkelahian antarsekolah atau tawuran.

4. Apa disiplin? Kebutuhan? Apa kaitannya dengan kebutuhan?
Maslow, 1954, membagi kebutuhan manusia menjadi dua kelompok utama, yaitu :
a. kebutuhan dasar dan
b. kebutuhan tumbuh.
Kebutuhan dasar sebagaimana namanya berada di bawah posisi kebutuhan tumbuh. Kebutuhan dasar ini berturut-turut dari bawah ke atas adalah:
(1) kebutuhan fisiologis, seperti makan, pakaian, tempat tinggal;
(2) kebutuhan akan rasa aman;
(3) kebutuhan untuk dicintai;
(4) kebutuhan untuk dihargai.
Sedangkan kebutuhan tumbuh hierarkinya berada di sebelah atas posisi kebutuhan dasar, berturut-turut dari bawah ke atas:
(5) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar);
(6) kebutuhan keindahan;
(7) kebutuhan aktualisasi diri.
Kebutuhan yang berada di hierarki lebih tinggi baru akan dirasakan bila kebutuhan yang ada di hierarki lebih bawah telah terpenuhi.
Pentingnya teori kebutuhan maslow dalam pendidikan terletak pada hubungan antara kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh. Jelas bahwa siswa yang kebutuhan dasarnya seperti rasa aman dan rasa dicintai tidak terpenuhi akan memiliki energi psikologis yang kecil yang dapat dikerahkan untuk belajar. Dengan kata lain siswa hampir tidak memiliki motivasi belajar. Sayangnya pemerintah tidak menyadari dengan tulus hal ini, kita seringkali melihat sekolah yang hampir ambruk atapnya, bocor kalau hujan, goyang kalau ada angin agak kencang, atau reot doyong ke kiri dan ke kanan. Pikirkan, apakah siswa akan merasa aman berada di dalam gedung sekolah yang demikian? Pastinya tidak bukan. Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan dasar dan hierarkinya berada di bawah kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar).

5. Bagaimana melakukan tindakan penyembuhan pelanggaran disiplin dan apa saja langkah-langkahnya?
Usaha guru untuk menyetop perilaku tidak pantas dari peserta didik diperlukan bila tehnik-tehnik yang diterapkan dalam fase pencegahan dan pemeliharaan tidak berhasil. Namun dalam fase campurtangan ini hendaknya dicari teknik yang efektif yang dilakukan secara hemat dan penuh pertimbangan. Campurtangan lebih dilakukan pada gejala utamanya dari pada kepada perilaku penyimpangannya. Guru melakukan tetapi situasi dari pada peraturan disiplinnya. Guru hendaknya menggunakan pendekatan ilmu dan seni pendidikan dalam fase ini. Guru memerlukan keahlian dalam langkah-langkah intervensi seperti : bertanya, menatap mata peserta didik, mendekati peserta didik, memberi isyarat, dengan tangan atau kepala agar peserta didik tidak berperilaku tidak pantas. Kalau cara ini belum berhasil, mintalah peserta didik menyebut namanya untuk diam atau memindahkan tempat duduknya, atau melakukan apa saja yang tepat untuk hasil itu. Hal itu semua harus dilakukan dengan tenang dan tidak amosional. Hindari segala jenis tindakan yang menimbulkan konfrontasi. Ingat, ini bukan “situasi kemenangan” bagi guru.

Pengaturan
Tujuan pengaturan perilaku adalah mengurangi kesalahan pelaksanaan pengembangan kecakapan peserta didik. Fase ini merupakan fase penting demi tercapainya tujuan peserta didik. Guru tidak dilatijh mengobati dan mereka harus menyadari kesalahan dalam menanggulangi hal-hal yang menyebabkan aneka perilaku. Namun demikian, guru harus memiliki kesabaran, potensi mempengaruhi sikap dan perilaku dengan cara yang tidak merugikan. Guru dapat membantu peserta didik menyadari bahwa perilaku memiliki konsekuensi dengan kehidupan mereka. Lebih lanjut guru dapat mempertimbangkan alternative aktivitas kearah pengembangan perilaku positif melalui cara yang efektif.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam tindakan penyembuhan ini ialah:
1) Mengidentifikasi para siswa yang mendapat kesulitan untuk menerima dan mengikuti tata tertib atau menerima konsekuensi dari pelanggaran yang dibuatnya;
2) Membuat rencana yang diperkirakan paling tepat tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam mengadakan kontrak dengan siswa yang semacam ini;
3) Menetapkan waktu pertemuan dengan siswa tersebut yang disetujui bersama oleh guru dan siswa yang bersangkutan;
4) Bila saatnya bertemu dengan siswa tiba, jelaskanlah maksud pertemuan tersebut dan jelaskan pula manfaat yang diperoleh baik oleh siswa maupun oleh sekolah;
5) Tunjukkan kepada siswa bahwa guru pun bukan orang yang sempurna dan tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan dalam berbagai hal, akan tetapi yang terpenting antara guru dan siswa harus tumbuh kesadaran untuk bersama-sama belajar, untuk saling memperbaiki diri, saling mengingatkan bagi kepentingan bersama;
6) Guru berusaha untuk membawa murid kepada masalahnya yaitu memahami tata tertib dan menjauhi pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku di sekolah;
7) Bila ada pertemuan yang diadakan dan ternyata siswa tidak responsif maka guru dapat mengajak siswa untuk melaksanakan diskusi pada saat lain tentang masalah yang dihadapinya;
8) Pertemuan guru dengan siswa harus sampai pada pemecahan masalah dan sampai kepada “kontrak individual” yang diterima siswa dalam rangka memperbaiki tingkah laku siswa tentang pelanggaran yang dibuatnya;
9) Melakukan kegiatan tindak lanjut.