Tahapan pemahaman moral antar pribadi menurul Selman (1980), tahapan-tahapan itu merupakan suatu kerangka untuk menafsirkan tahapan-tahapan penalaran moral antar pribadi yang dielaborasi. Perubahan tahapan perkembangan tersebut dalam aspek-aspek persahabatan yaitu :
1. Perumusan situasi
2. Alas an-alasan yang diberikan untuk mengambil keputusan praktis
a. Konsisten dengan kewajiban dalam persahabatan
b. Ketidakkonsitenan dalam kewajiban persahabatan
3. Konsekuensi pelanggaran kewajiban dalam persahabatan
a. Bagi orang lain (pergaulan)
b. bagi si pelaku (perasaan moral)
4. Berbagai aspek dalam “ pembahasan moral” antara kawan yang diimajinasikan misalnya strategi atau siasat yustifikasi dan restitusi untuk melahirkan maupun rmenghindarkan berbagai konsekuensi pelanggaran kewajiban
Tahapan pertama yang terjadi adalah tahapan 0, yang disebut tahapan fisikalistis, dimana unsur utama dari situasi ialah hasrat dan keinginan si pelaku itu berpusat pada dirinya sendiri (self-centered), yang dikaitkan dengan pengorbanan yang bersifat hedonistic. Hasrat-hasrat hedonistic sebagi alasan-alasn pengambil keputusan. Contoh untuk memenuhi ajakan menonton bioskop demi persahabatan dengan sahabatnya itu. Konsekuensi keputusan pergi menonton bioskop bagi si pelaku itu sendiri (perspektif diri) lagi-lagi belum dirasakan sebagai pelanggaran suatu kewajiban. Keputusan untuk pergi menonton bioskop itu di rasakan si pelaku pada dasarnya baik-baik saja(karena ia bisa pergi menonton bioskop), ia melihat keputusannya itu atas dasar pragmatis belaka, karena tidak adanya kesadaran akan terjadinya pelanggaran moral, maka tidak diperlukan yustifikasi keputusan tersebut dalam arti “menunjukkan alasan yang lbih kuat dari pada mengatasi kewajiba tersebut”.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan 1, yang disebut tahapan unilateral, perumusan situasinya adalah hasrat diri dan orang lain yang muncul adanya konflik perhatian antara kedua belah pihak kawannya, alasan mengambil keputusan untuk mengunjungi sahabtnya itu tidak lagi semata-mata sebagai alasan hedonistik seperti pada tahapan 0, melainkan sebagai aspek hubungan persahabatan (menyukai sahabat, menyukai kebersamaan, , atau persahabatannya itu sendiri). Konsekuensi untuk pergi ke bioskop sebagai kesadaran terhadap diri sehubungan dengan pertimbangan ikut atau tetap tinggal dirumah, menghindari konsekuensi negative untuk dirinya setelah peristiwa itu berlangsung (tidak akan menceritakan apapun karena sahabatya akan marah), sehingga perlu adanya yustifikasi sbg penjelasan dan penyembunyian atas tindakannya.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan 2, yaitu kerja sama dalam iklim yang wajar, interaksi yang berkelanjutan merupakan perumusan situasinya, janji si pelaku arau harapan-harapan yang lahir dari janji sebagai kesepakatan untuk bertemu merupakan alasan dan dasar pemikiran untuk mengunjungi sahabatnya itu. Kesdaran akan kewajiban dan harapan tersebut yang bertalian dengan persahabtan dan pemberian janji itu menciptakan semacam “dorongan” yang memotivasi untuk mencari alasan yang membenarkan (meyustifikasi) pelanggaran kewajiban tersebut. Konsekuensi bagi sahabatnya itu adalah pengkhianatan yang menyebabkan sahabatnya merasa tersinggung, kecewa dan merasa ditinggalkan. Konsekuensi keputusan bagi si pelaku adalah perasaan moral antar pribadi (merasa tidak enak setelah mengkhianati). Untuk menyeimbangkan kembali persahabatan itu maka harus ada pemahaman kembali yang lebih psikologis.
Tahapan yang berikutnya adalah tahapan ke-3, yaitu persahabatan yang akrab, hubungan ini adalah sebagai system harapan bersama yang menyagkup perjanjian, pemberian perlindungan, keprcayaan dan perlindungan thd kebutuhan dan perasaan sahabatnya yang lebih mendalam dari tahapan 2. Pengambilan keputusan apabila sahabatnya itu ingin bicara dengan si pelaku di tafsirkan bahwa ia mempunyai keperluan. Hal ini mjd alasan yang berboboy “moral” yang mengacu pada harapan-harapanpersahabatan dan janji. Alsan yang melandasi adalah agr tidak menjadi pengkhianat atau pengingkar janji. Konsekuensi diri adalah menadari kesalahan dan adanya rasa malu. Untuk meneimbangkan hubungan persahabatan ini adalah dengan Menghayati perlunya membicrakan tentang pengambilan keputusan, tentang yustifikasi keputusan melalui penalaran, atau tentang meyakinkan kembali solidaritas dalam komunikasi.

Tahapan terakhir adalah tahapan 4, yaitu melebihi dari persahabatan yang akrab, akan tetapi blum didapatkan data yang cukup untuk meyustifikasi secara memadai dalam memberikan deskripsi mengenai tahapan 4 tersebut. Tampaknya hanya pada tahapan ini, segala kepdulian ditimbang-timbang secara sistematis berdasarkan prioritasnya. ( sekiranya sahabt itu benar-benar memerlukan si pelaku, maka ia harus pergi mengunjunginya, akan tetapi sekiranya situasi tidak segawat itu, maka si sahabat itu harus menerima bahwa si pelaku akan mengunjunginya pada kesempatan lain. Keabsahan (legitimasi) kebutuhan sahabatnya dibandingkan dengan kebutuhannya sendiri dan dirumuskan sebagai hak seseorang atas dasar hubungan persahabatan, serta kewajiban seseorang yang melebihi persahabatan yang akrab. Sahabat itu dipandang sebagai memiliki kewajiban moral untuk memperhatika pula situasi orang lain. Untuk menyeimbangkan keadaan ini maka diperlukan suatu asumsi untuk saling memahami tentang tuntutan dan kewajiban masing-masing yang memungkinkan diadakannya perundingan yang dilangsungkansecara “rasional”.

Keterangan :
Yustifikasi : peradilan keputusan yang membenarkan
Elaborasi : penggarapan secara tekun dan cermat
Pragmatis : bersifat praktis dan dan berguna bagi umum
Hedonistik : pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup
Unilateral : secara 1 pihak, dipengaruhi 1 golongan saja
Psikologis : bersifat kejiwaan
Solidaritas : sifat satu rasa (senasib dan sepenanggungan)