Pagi hari itu, hari pertama aku masuk sekolah SMA, waktu menunnjukkan pukul 06. 30 WIB, kulangkahkan kaki dari sebuah pesantren menuju sekolah, jaraknya lumayan dekat  kira-kira 2 km. Saat melangkah beberapa meter, terlihat sosok gadis yang sedang menaiki sepeda gunung, aku terdiam…..?!? subhanallah….!!! Maha Suci Allah betapa anggunya gadis yang Kau ciptakan di depan ini ya Allah. Sepatah kata pun tak bisa keluar, seakan-akan mulut ini terkunci, sebab Tuhan telah mengirimkn sebuah bidadari, entah untuk siapa dan mau kemana ia pergi. Ku tatap matanya yang indah dan memancarkan cahaya suci, tak kuat jika mata ini memandang terlalu lama, Hanya sebuah senyuman yang ia torehkan ketika pertemuan tak sengaja itu, hati ini sempat tak percaya apakah senyum itu diberikan kepaku atau tidak, yang pasti aku belum merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, mata ini tak kunjung berkedip,  jiwaku gemetaran, hati ini deg-deg kan tak karuan, ku tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan sedikit demi sedikit untuk merilekskan badan. Hemmm……hati kecil ini bilang “betapa beruntungnya aku hari ini, bertemu gadis seperdi bidadari”

Langkah kaki terus berjalan. Hari ini pertama menginjakkan kaki di sekolah yang mewah dan penuh persaingan yang ketat, berharap disinalah aku mendapat pendidian yang layak dan terfasilitasi. Demi cita-cita menjadi seorang ilmuwan. Hari yang menakutkan karena konon cerita, adalah hari yang penuh dengan kemarahan karena gencar-gencarnya aksi Masa Orientasi Siswa (MOS) yang dilakukan senior terhadap junior dengan embel-embel “pembalasan”. Atau kesempatan senior untuk meluapkan marahnya kepada siswa baru seperti dulu yang pernah mereka hadapi ketika menjadi siswa-siswi baru. Bahkan ada yang memanfaatkan kesempatan sebagai awal kenalan kepada siswa-siswi baru yang dianggap mempunyai daya tarik sendiri, terutama senior laki-laki yang mngincar siswi baru untuk berkenalan lebih dekat seperti “pendekatan”. Kadang-kadang senior berbuat diskriminasi kepada siswa-siswi baru yang dianngapnya perlu di maki, dilecehkan dan dijadikan bahan tertawaan para senior.

Namun cerita di atas tidak semuanya benar, setelah aku merasakan hari pertama dengan suka-cita yang dibalut rasa senang dengan kejadian tadi pagi. Tak bisa ku lupakan senyum manis yang diselimuti rasa penasaran. Hatiku selalu risau dan gelisah memikirkan apa yang terjadi pada diriku sekarang, ku tak tahu mengapa senyum itu selalu hadir dalam anganku dan bayangan mataku. Ku selalu mengingat dan mengingat peristiwa itu, sehingga besok ku putuskan untuk berangkat di jam yang sama dan jalan yang persis seperti kemarin dengan berharap bisa bertemu ia lagi dan membalas senyum yang belum sempat terbalas olehku. Namun harapan itu sia-sia,  sepanjang perjalanan menuju sekolah hanya rasa sedih dan gelisah yang menyelimuti hati ini, apakah pertemuan kemarin hanya sebuah kebetulan saja atau entah apa yang sedang terjadi pada dirinya. Rasa khawatir selalu ada dalam fikiran meski tak tahu siapakah namanya, siapa sebenarnya ia ?  apakah ini yang di sebut cinta ?

Hari kedua masuk sekolah dengan rasa sedih ku jalani aktifitas, MOS hari ini terasa menyebalkan, memuakkan, dan membosankan. Bagaimana tidak ? Perasaan sedih selalu menghantui di setiap langkah, ku tetap berharap bisa bertemu ketika  pulang nanti. Harapan itu besar sekali karenanyalah hatiku bisa meraskan betapa indahnya kehidupan yang diciptakan didunia yang fana ini. Harapan bertemu kembali dengannya tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, karena tiada yang tahu siapakah ia sebenarnya, apakah ia memang benar-benar bidadari yang dikirim Tuhan padaku ? mungkin saja. Tapi sebentar, mendekati asrama putri (akses jalan menuju asrama putra) terlihat perempuan itu di lantai dua gedung asrama putri. Subhanallah……!!! ternyata ia adalah salah satu santriwati di pesantren ini. Ku coba tersenyum padanya, senyuman itu pun dibalas olehnya dengat raut muka yang mempesona. Hatiku tak percaya, baru kali ini pesan sebuah senyuman sangan berharga nilainya. Perasaan senang membawa langkah menuju sebuah perjalanan kehidupan. Hari ini terasa terlahir kembali ke dunia. Ku jalani aktifitas ngaji (belajar agama) dan tahlil di pesantren dengan rasa penuh kegimbiraan. Waktu larut sampai malam, Ku coba tidur tapi entah kenapa mata ini tak bisa bersahabat, bayangan wajahnya selalu hadir dalam pandangan, hati ini juga tidak bisa ditipu untuk selalu rindu.

Esok hari ku melangkah meninggalkan pesantrenn sejenak untuk mencari ilmu, barangkat dengan penuh harap sekali untuk bertemu sang bidadari. Hari ini keberuntunganku, saat sampai di depan pintu, disapanya aku seakan ia sedang menunggu keberangkatanku, hati ini berbunga-bunga, muka ini terasa ringan untuk menatapnya, badan ini tergugah semangat, betapa tidak sadarnya jiwa ini dengan kejadian yang tak pernah ku alami. Mulut hanya mamapu berucap “Assalamu’alaikum”, terdengar lirih jawabnya “Wa’alaikumsalam Warohmatullah”. Hatiku seakan melayang-layang di atas langit, menari-nari di atas awan, dan berjoget mengelilingi dunia.

Waktu berjalan cepat, MOS memasuki hari ke-3, hari terakhir masa pengenalan lingkungan sekolah, dari perkenalan, belajar bekelompok, kerja tim, saling peduli, dan rasa setia kawan pun di ajarkan disaat MOS. Namun hari ini terasa aneh, ketua osis memanggilku untuk datang ke kantor OSIS. Aku berdiri termangu dengan rasa takut dan cemas. Tak lama kemudian datang siswi baru juga yang di panggil seperti aku, tak tahu apa maksud semua ini. Yang pasti mulut tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun, aku harus melapor apa yang sudah aku lakukan selama 3 hari MOS. Ku mencoba memberanikan diri untuk menjawab, “pe…pe….perkenalan dengan teman-teman Kak, dan ke…kerja kelompok”. Siswi di sampingku juga menjawab, “i…i…iya Kak be…benar apa kata dia(aku)”. “Tidak itu yang aku maksud” balas ketua OSIS. “Hayo….cepat katakan…!!!” tambahnya lagi. Kami berdua pun kebingungan.

Akhirnya kami dikirim ke kelas-kelas lain untuk mengakui perbuatan yang telah kami lakukan. Disalah satu kelas kami tidak tahu yang harus kami bicarakan, perintah ketua OSIS hanya mengatakan minta maaf karena kami berdua telah berbuat kesalahan. “kesalahan apaa…???” dalam hatiku, dibalut perasaan cemas dan takut karena selalu dipojokkan seakan-akan kami berdua telah berbuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan dan di terima oleh sekolah sehingga kami berdua selalu diancam dikeluarkan dari sekolah,  air mata pun menetes membasahi pipi. Gara-gara kejadian itu, semua anak terdiam dan kebingungan tak tahu harus bagaimana yang seharusnya mereka lakukan untuk teman barunya yang sedang mendapat masalah besar. Setelah selesai masuk dari kelas ke kelas lainnya, siswa-siswi baru semua dikumpulkan di aula  dan membuat lingkaran besar, kami di suruh di tengah-tengah mereka. Salah satu panitia marah-marah tanpa sebab yang jelas terhadap kami berdua, “inilah siswa-siswi yang tak patut di contoh, mereka berdua telah melakukan suatu kesalahan, kesalahan yang tak bisa dimaafkan, kesalahan yang fatal, kesalahan yang sekolah harus mengeluarkan  mereka berdua” dengan suara keras dan marah. Tak seoarng pun siswa atau siswi baru yang berani mengutarakan pendapat atau berusaha mebantu. Seketika itu apa dikata, Mata tak kuasa menahan air kesedihan, mulut tak bisa diam dengan jeritan-jeritan keputusasaan, jiwa pun tak mampu berbuat apa-apa. Kemudian salah satu panitia masuk dan mengucapkan “Happy Birthday to U, Happy Birthday to U, Happy Birth…day to…. U…….” aku tak menyangka jikalau ini hanyalah sebuah manajemen konflik yang dibuat panitia. Hem……perasaanku berbungan-bunga, muka tersimpuh malau, mulut pun berusaha tersenyum dan senang. Karena baru kali ini tanggal kelahiranku dirayakan, usiaku pada waktu itu 16 tahun, apalagi dengan pesta yang sangat ramai, 1000 orang yang hadir,hehehe (siswa-siswi baru maksudnya). Setelah selesai penutupan MOS. Akhirnya aku pulang dengan raut muka yang penuh arti dan wajahku penuh senyum sepanjang pejalanan pulang.