Hari ini, Senin, 28 November 2011. Minggu awal untuk memulai aktifitas kuliah, pukul 07.00 – 10.30 ada jadwal Ujian Tengah Semester (UTS) Hukum Tata Negara (HTN) di ruang i1 jurusan PMP-Kn Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya. Berharap dosen datang telat, iya,,,,,hitung-hitung ada kesempatan belajar buat persiapan, Maklum semalaman tidak bisa belajar karena harus member les anak-anak panti mulai pukul 18.30 – 22.00. Tempat yang jauh membuat badan terasa lelah, sesampai asrama pun langsung merebahkan badan dan tertidur terlelap sampai pagi harinya.

Semua Mahasiswa masuk kelas, diikuti dosen pengajar mata kuliah HTN, Drs. I made Suwanda M.Si. Hati deg-deg-an, hati tak karuan, takut tidak bisa mengerjakan karena minimnya persiapan belajar. Seakan-akan hati kecil ini berkata “Kamu pasti BISA”, setelah ku yakinkan, perasaan tidak karuan mulai tenang dan deg-deg-an mulai hilang. Aku merasa siap UTS sekarang, entah kenapa meskipun belajar sedikit saya yakin kemungkinan besar bisa menjawab pertanyaan UTS. Hal ini mungkin dikarenakan setiap selesai pelajaran, malamnya aku selalu membaca ulang dan memahaminya, sehingga ada persiapan jauh-jauh hari untuk sekarang (UTS red).  Tapi takdir berkata lain, ternyata  UTS di tunda mulai pukul 08.50-10.30, Hati ini merasa senang karena ada kesempatan belajar lagi. Kesempatan 1 jam lebih ini aku manfaatkan sebaik mungkin dengan mencari tempat belajar yang kondusif, i2 pilihannya karena pada waktu itu sepi dan nyaman untuk belajar intensif.

            Tiba-tiba 4 mahasiswa sekelas datang menghampiri saya dan berencana sharing dan belajar bersama, akhirnya kami belajar bersama-sama. 10 menit kemudian 2 teman mahasiswa mengajak sarapan, tidak menolak karena perut juga belum didisi saya spontan bilang “Ayo…!!!”. Kami berangkat, tapi berjalan 5 meter, aku mengurungkan niat untuk bergabung, aku rasa aku kuat menahannya, “la puasa 1 hari full ndak sahur ae kuat, masak nahan lapar 2 jam gak kuat”, Sapaku dari jauh. Hal ini aku lakukan tidak lain tidak bukan adalah ingin memanfaatkan waktu yang sedikit untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa menjawab soal UTS dengan lancar.

UTS dimulai, soal mulai dibagikan, ternyata soalnya ada 2 tipe, yaitu ganjil dan genap (sesuai NIM), aku kebagian soal Genap karena NIM saya 046, soal demi soal aku  jawab, Alhamdulillah 5 soal bisa ku selesaikan dengan baik. Setelah UTS saya ada tugas ke fakultas bersama bendahara BEM untuk Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) kegiatan BEM. SPJ berlangsung lama, mulai menunggu, sampai masuk ruangan dan proses pengecekan surat mulai dilakukan. Ketika ditanya sama petugas SPJ “ pesertanya 50, kog pembelian nasinya 100 ????” spontan sya kebingungan begitu juga bendahara BEM, karena maklum, bukan kami yang membuat SPJ. Terlintas difikiranku, “oh iya Pak, itu semua belum termasuk panitianya (menjawab sesuai kegiatan yang dulu berlangsung)”. Petugas SPJ menjawab “masak Panitianya 50 Mas??, 1 orang panitia pegang 1 peserta berarti ?”. “Oh iya sih” jawab hatiku. Untung saja Bendahara BEM segera selalu up to date, seketika itu bertanya ke pembuat SPJ lewat sms, “oh iya Pak, saya ingat kalau makannya 2 x jadi belinya 100, saya ingat kepala departemennya kemarin bilang seperti itu” sahut bendahara BEM. Petugas SPJ percaya dan akhirnya disuruh memperbaiki kwitansinya. Kami keluar, aku pun segera pulang.

Pukul menunjukkan 12.15, jadwal kuliah pukul 13.00 (biasa molor sampai 13.30), tapi badanku capek dan aku putuskan untuk tidur sebentar dengan memasang alarm jam 13.00. Padahal sebelumnya sudah ada janji jam 13.00 bertemu teman BEM untuk mengembalikan stempelnya, tidurku nyenyak sampai tidak terdengar suara alarm sampai pukul 13.30. Segera bangun, cuci muka dan mengambil air wudhu dan sholat dhuhur. Setelah itu langsung berangkat ke kampus.

Melintasi ruang kelas, kayaknya kelas sudah ada dosennya, aku tidak langsung masuk, karena harus mengembalikan stempel. Tetapi tidak diduga ternyata ada rapat bersama, akhirnya aku ikut di dalamnya karena urgent dan mengakhiri pikul 15.30. Aku segera masuk kelas dan menghampiri dosen “Maaf Bu saya datang telat, karena tadi ada rapat BEM mendadak dan penting karena kegiatan kurang 3 hari lagi dan persiapannya minim, sebelumnya tadi saya juga sudah memberi tahu Ibu jika saya dating telat melalui SMS”, Ibu dosen faham dan segera mempersilahkan aku duduk.

Ketika duduk, “darimana? Tumben telat”Tanya teman samping yang kebetulan anggota BEM juga. “dari BEM, ada rapat persiapan seminar tanggal 3 besok.” Jawabku. Entah kenapa tidak tahu perbincangan sampai melebar, akhirnya dia Tanya “Mengapa ya setiap kegiatan BEM kelihatannya ketua pelaksanya bersal dari prodi Hukum semua, tidak dari prodi yang lain? Ini merupakan diskriminasi makanya mengapa ketua BEM tidak disuka anggotanya dan aktivis kampus lainnya yang dulu anggota BEM juga? Ini perlu dipertanyakan.”.aku terdiam sejenak dan tersenyum kecil menanggapi masalah tersebut, Sebenernya anak-anak BEM salah faham semua tentang masalah itu, bukan saya membela atau yang lainnya, Cuma sebelumnya kamu kan baru di BEM, saya maklum, jadi tidak mengetahui sejauh mana akar permasalahan yang sebenarnnya. Dulu ketika penyusunan program kerja kekurangan anggota. Hal ini dikarenakan pihak fakultas yang membatasi keanggotaan BEM, sehinnga setiap ketua pelaksana merangkap-rangkap, kebetulan saja program kerja departemen yang diisi anak hukum banyak, sehingga kelihatan seakan-akan anak hukum yang mendominasi ketua pelaksana kegiatan BEM-J. Itu yang sebenarnya realita yang terjadi. Jika ada anggota BEM lain yang tidak percaya atau menyangkal, suruh bilang ke aku, nanti saya klarifikasi semuanya.”. Tidak lama kemudian waktu pelajaran diakhiri dan pulang. “ ya udah, kapan-kapan dilanjutkan lagi diskusinya” sahutku. “OK” katanya.